Posts

Showing posts with the label Misuh

Memangnya Seberapa Kuat?

Image
Sumber:  https://mancode.id/media/images/Foto-Foto-Demo.2e16d0ba.fill-1200x800.jpg Menuju akhir bulan September tahun 2019 ini ternyata banyak sekali hal menarik. Salah satunya adalah serangkaian aksi unjuk rasa yang dilakukan mulai dari mahasiswa dari berbagai daerah, para pelajar yang masih berseragam sampai dengan rencana pekerja yang juga akan melakukan aksi serupa. Isu yang diangkat pada runtutan aksi ini kurang kebih sama semua dan tentu saja dengan motif yang hampir sama, yaitu kekecewaan dan kritik kepada para anggota dewan yang katanya mewakili rakyat. Fenomena menarik pada runtutan aksi ini adalah penggunaan bahasa yang "sangat santai". Biasanya, pada aksi sebelum-sebelumnya, poster berisi tulisan ini memang selalu berisi kritikan dan sindiran, namun dengan bahasa yang lebih kaku dan dianggap berkelas juga intelektual.  Penulis melihat fenomena sebagai fenomena yang menyenangkan. Para pengunjuk rasa lebih memperhatikan bagaimana cara pesan mereka bi...

Tuan, Kumohon

Tuan, jangan kau berbicara perkara perjuangan yang bahkan sejak pertama kali kau hirup udara di dunia ini tak pernah kau lakukan. Tuan, rasanya tak etis meremehkan masalah hidup eigendom orang lain yang bahkan tak kau temani sedari awal Tuan, hidup ini tak sesederhana ketika kau berucap mengomentari hidup orang lain dan membeli kebutuhan tersier yang sering kau lakukan Tuan, rasanya kesadaranmu renik saat banyak yang menjerit memohon untuk diberikan pertolongan dengan sangat bisingnya Tuan, saya yang sangat rendah ini hanya dapat mengharapkan dan menyarankan untuk mempelajari dasar hidup yang sesungguhnya tak sesederhana yang Tuan pikirkan - Tercetus ketika penulis bersama pengemudi transportasi daring yang menolak hening saat mencoba membelah kemacetan salah satu kota tersibuk di benak penulis, Jakarta.

Harga dan Nilai

Makhluk disekitar selalu berbicara harga Berhargakah untuk sekeliling? Berhargakah untuk semesta? Berhargakah diri ini? Harganya ditentukan oleh nilai Berapa nilai yang mereka berikan pada yang lain? Berapa nilai yang mereka berikan pada diri ini? Berapa nilai jiwa ini di hadapan Tuhan? Lantas, apa yang membuat mereka memiliki wewenang menentukan harga dari nilai? Mereka, makhluk, jamak Bukan Tuhan yang Esa, tunggal, berdiri sendiri Bahkan katanya, Tuhan saja memiliki perhitungan terkait harga dan nilai yang dirahasiakan dari makhluknya Bukankah semua makhluk sama? Lalu apa yang membuatmu merasa pantas untuk memutuskan berharga atau tidaknya hidup lain? Apa yang membuatmu merasa pantas untuk memutuskan bernilai atau tidaknya hidup lain? Semua makhluk itu sama, hanya perwujudan yang diberikan Tuhan saja unik pada tiap insan Makhluk sudah seharusnya menjalankan peran sebagai makhluk Menjalankan perintah Tuhan dan tak melakukan yang Tuhan larang Bukankah hal itu saj...

Estetis Kudu Grainy?

Image
Foto dengan grainy  (pribadi)   es·te·tis/  /éstétis/  a   1  mengenai keindahan; menyangkut apresiasi keindahan (alam, seni, dan sastra);  2  mempunyai penilaian terhadap keindahan ( sumber ) Tanpa disadari tren yang ada silih berganti. Tak hanya busana, dunia potret-memotret pun punya beberapa tren baru. Banyak orang yang berlomba memanipulasi foto mereka agar memiliki niai estetis tinggi dan menarik perhatian yang melihat. Secara umum, keindahan suatu karya memang subjektif. Tak ada dasar penilaian akan sebuah karya yang paten. Meski begitu, dasar yang harus dipenuhi untuk menghasilkan foto yang berkualitas sudah ada. Hal ini merupakan salah satu ilmu dasar dalam fotografi (mengenai ISO, shutter speed , dan aperture ). Mengenai dasar fotografi ini sudah banyak yang memuatnya juga. Kegiatan memanipulasi foto atau mengeditnya bukanlah hal yang salah dalam dunia fotografi. Pada hasil pemotretan terkadang ada beberapa hal yang...

Kesukaan Melanggar

Langgar dalam hal ini bukan surau atau masjid, tetapi perbuatan tidak mematuhi peraturan. Peraturan ada untuk dilanggar. Aneh dan sering kali diucapkan, namun sangat benar adanya. Apakah memang sesulit itu mematuhi peraturan yang ada? Padahal, peraturan ada untuk kenyamanan bersama. Meski sudah tertulis, mereka masih sering mengabaikan peraturan dan tetap melanggarnya. Mereka melakukan pelanggaran seperti sudah lumrah. Parahnya ketika mereka ditegur oleh petugas yang berwenang, mereka akan berkilah. Bisa dibayangkan reaksinya bila ditegur oleh orang biasa. Sebenarnya semua tindakan memiliki dampak. Melanggar peraturan dengan membuang sampah sembarangan saja dapat menyebabkan banjir. Kok bisa? Tak perlu lagi dijelaskan, contoh ini sering digunakan sedari SD. Apakah mereka tak merasa malu melakukannya? Apakah sepenting itu urusan mereka sampai harus membahayakan diri sendiri dan orang lain? Apakah mereka masih berpikir?

Sudah Olahraga, Kok Tetap Gendut?

Saya pribadi sering mendengar kalimat ini ditujukan kepada saya. Awalnya saya merasa malu dan kesal. Kenapa pula mereka berpikir saya berolahraga untuk menurunkan berat badan saya? Padahal saya berolahraga agar fisik saya kuat dan sehat. Sering bukan berarti hanya satu atau dua kali, bahkan dalam satu kesempatan mereka melontarkan kalimat seperti judul berkali-kali. Dari yang awalnya kesal, saya merasa muak. Mereka juga tak segan menjadikan kalimat seperti judul untuk bahan candaan. Kalian tahu penilaian saya kepada mereka yang bersikap seperti itu? Norak dan kampungan. Tak pernah saya lontarkan sebelumnya, tetapi ini murni pendapat saya.  Kenapa tak pernah saya lontarkan, padahal mereka saja tak pusing memikirkan ketika mereka mengejek orang lain? Karena saya tak mau menjadi seburuk mereka, sama norak dan kampungannya. Sepertinya mereka belum mengerti apa itu body shaming yang merupakan pelecehan seksual . Kebanyakan orang seperti itu, bukan berarti semua orang. ...

Palsu? Yang Penting Murah!

Image
quora.com Banyak sekali orang yang ingin bergaya dan menerapkan hal seperti judul. Bagi gue hal ini cukup menyedihkan dan menggelikan pada saat bersamaan. Lucu ga sih mereka kebelet dianggap keren, berkelas, dan sebagainya tapi dengan menyedihkannya malah beli barang palsu? Mata gue ini bisa dikatakan sensitif terhadap barang palsu. Dengan mudah gue bisa membedakan barang palsu dan asli. I don’t know it’s a curse or a gift. Inner circle gue pasti mengetahui dengan benar mengenai hal ini. Terkadang yang konyolnya mereka membeli barang palsu yang sama sekali ga mirip sama aslinya. Kekonyolannya berlanjut jika mereka malah dengan bangganya memamerkan barang palsu mereka. Hal-hal ini membuat gue susah menahan tawa. Selera humor gue memang sulit dimengerti sepertinya. Ada wejangan mantap dari Almarhum Bob Sadino “Bergayalah sesuai isi dompetmu” . Kalau tidak ada isi dompetnya, ya jangan maksa untuk bergaya berlebihan. Ayolah! Coba untuk mengubah pola pikir kalian yan...